Pembatas buku itu benda yang sangat penting kayaknya bagi para kutu buku. Biasanya pencinta buku pasti benci banget deh kalau bukunya itu ada bekas lipatan. Rasanya seperti ada yang melukai diri kita, kalau menemukan salah satu halaman buku terlipat, hiks.. hiks…
Kadang, kalau gak ketemu pembatas buku itu, yah, benda apa pun yang terlihat, bisa dijadikan pembatas halaman yang sedang dibaca, selama benda itu tidak merusak buku itu. Dari pembicaraan di milis, selain menggunakan pembatas buku yang sebenarnya (alias dibeli atau diberi gratis dari penerbit — my favorite, hehehehe ) ternyata terdapat berbagai variasi pembatas buku yang luar biasa, mulai dari benda-benda yang masih terbuat dari kertas seperti : potongan tiket bioskop, potongan label pakaian, potongan bon pembelian, kertas-kertas junk mail, potongan kalender, potongan kartu, foto, lembaran post-it, maupun lembaran-lembaran lainnya (termasuk uang kertas ^.^). Tapi ternyata ada juga yang menggunakan benda-benda yang tak diduga : handphone, kepingan CD, buku lainnya, bantal, kursi, meja (nah lo…), atau benda apa pun yang terlihat dan gampang diraih (kecuali yang membuat kertas menjadi basah seperti termos, gelas –> ini juga kalau gak ada airnya dipakai tuh, hihihihi).
Nah, ternyata pembatas buku ini ada ceritanya lo….
selamat menikmati!
Pembatas Buku
Ada beberapa cara menandai halaman buku yang sedang kita baca. Di masa
lalu ada kebiasaan yang lazim dilakukan, yakni melipat sudut atas
halaman itu - dari sinilah diperoleh ilham untuk nama rubrik "Sudut
Lipatan". Arah lipatan menunjukkan halaman mana yang terakhir kita
baca, yang ganjil atau yang genap.

Namun melipat halaman buku bukanlah cara yang patut ditiru, sebab akan
merusak buku. Bayangkan bila kita membaca dengan begitu lambat, pasti
akan banyak sudut halaman yang kita lipat. Jika satu hari cuma membaca
satu halaman, sudut yang sama akan dilipat dua kali, mula-mula ke
halaman ganjil, lalu ke halaman genap. Lama-lama, halaman itu patah
sudutnya.
Sungguh, sudah lama ada cara lain untuk menandai halam yang lebih
beradap. Orang yang kerap dsiebut berjasa ialah Christopher Barker,
tukang cetak istana pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I. Tentu
saja, ia tidak melipat sudut halaman. Istilah pembatas buku (bookmark)
merujuk pada hadiah yang diberikan Ratu Elizabeth I berupa pembatas
buku berupa pita dari bahan sutra.
Pembatas buku dibuat lantan buku pada masa itu merupakan barang langka,
maklum belum dicetak semasal sekarang. Harganya mahal, karena itu buku
mesti disayang-sayang. Tak boleh dilipat sudut halamannya. Barkerlah
yang merintis, kemudian orang terbiasa menggunakan pita yang direkatkan
pada bagian atas tengah buku, menjulur kebawah hingga melampaui batas
halaman. Pembatas seperti ini masih dipakai untuk halaman-halaman
skripsi, tesis, atau disertasi yang dijilid.
Pita stura inilah yang kemudian dipakai pada abad 18 dan 19, diikatkan
pada bagian atas buku dan terjulur hingga ke bawah halaman. Pada
1860-an pembatas buku dibuat masal dengan mesin J.& J. Cash
memproduksi pembatas buku sutra untuk menandai kematian Pangeran
consort, 1861, di Inggris. Namun orang pertama yang dianggap jago dalam
membuat pembatas buku ialah Thomas Stevens dari Coventry, Inggris, yang
disebut-sebut memiliki 900 desain. Karya Thomas Stevens biasa disebut
Stevensgraphs. Biasanya ia meneyrtakan kata-kata mutiara di pembatas
buku itu.
Baru pada 1880-an bahan kertas dan material lain lebih sering
digunakan. Dan kini kita mengenal pembatas buku dengan beragam material
dan desain. Ada yang terbuat dari kertas yang dicetak berwarna, ada
yang dibikin dari bahan seluid, perak, emas, kayu, brass, tembaga,
alumunium, timah, plastik, pita, sutra, kulit, serat optik, bahkan
gading.
Kata bookmark pun kini punya makna baru. Bookmark dipakai untuk menandai halaman atau lokasi situs di Internet.
db/berbagai sumber
sumber : Suplemen Ruang Baca-Koran Tempo ed. 30 - Sept 2006
<!–
D(["mb","
\n
\nBaru pada 1880-an bahan kertas dan material lain lebih sering digunakan. Dan kini kita mengenal pembatas buku dengan beragam material dan desain. Ada yang terbuat dari kertas yang dicetak berwarna, ada yang dibikin dari bahan seluid, perak, emas, kayu, brass, tembaga, alumunium, timah, plastik, pita, sutra, kulit, serat optik, bahkan gading.
\n
\nKata bookmark pun kini punya makna baru. Bookmark dipakai untuk menandai halaman atau lokasi situs di Internet.
\n
\ndb/berbagai sumber
\n
\nsumber : Suplemen Ruang Baca-Koran Tempo ed. 30 - Sept 2006
\n
\nsalam,
\nh_tanzil
\nhttp://bukuygkubaca.blogspot.com/
\n
\n[Non-text portions of this message have been removed]
\n
\n
\n