Archive for October, 2006

Berat

Sunday, October 29th, 2006

Dscf1057

Ini gambar buku-buku yang aku angkut waktu pulang kemaren! total ternyata ada 17 biji tuh!
Dua buku paling atas : The Prince and the Pauper-nya Mark Twain sama Chronicles of Ancient Darkness - Spirit Walker nya Michelle Paver, itu aku bawa waktu berangkat, buat nemenin di jalan. Kali ini sih udah lebih rasional dari biasa, karena memang sudah merencanakan untuk beli buku, hehehehe. (abis, biasanya suka panik gak keruan, bawa buku bisa ampe 5-6 biji)

Nah, waktu pulang… ternyata sudah berkembang biak jadi 17 biji! hek hek hek…

Waktu pulangnya itu, 7 biji buku sih aku jinjing aja di kantongan plastik (buku yang kedua dan ketiga dari bawah, buku keenam dan ketujuh dari bawah, sama buku ketiga sampai keenam dari atas). Terus satu buku, yang Kafka on the Shore nya Murakami itu aku taro di tas tangan, buat dibaca di jalan. Sisanya, masuk backpack ku (wehehehe, baju ku cuma dikit, gak nyampe separoh isi backpack, sisa ruangan di backpack isinya yah buku2 itu hehehe).
Ternyata, BERAT BANGET!!!!! (jadi ingat masa lalu nih, angkut2 WP, hehehehehe)

Sampai rumah, pegel2 deh, tapi senang, bahagia, gembira, (lo, kan sama semua yah, hehehehe)
Terus bingung….
Raknya dah kepenuhan, wuekekekekekeke

Kapok???
kayaknya gak tuh, hehehehe

ntar kapan-kapan, pasti terulang lagi nih kejadian, hihihihihi

Gak jadi beli kog…..

Friday, October 27th, 2006

Ternyata, memang susah tuh menahan diri untuk gak beli buku. Tapi akhirnya berhasil juga sih.

Kemaren yang pasti gak jadi beli :

1. Series of Unfortunate Events yang boxed set - pertimbangan karena ‘mahal banget’ bayangin aja sekali beli 13 biji gitu, hehehehe, terus selain itu, mikir juga bawa nya, karena dah terlanjur beli yang lain kan.

2. For one more day - masih mahal, karena masih baru, wekekekeke, terus juga mikir, ah, paling juga bentar lagi dah nongol edisi terjemahannya, hehehe, beli itu aja, murah meriah ^.^

Soul_eater_mp

3. Soul Eater - buku ketiganya Chronicles of Ancient Darkness, ini juga karena mikir, ah bentar lagi juga terjemahannya dah keluar kog, tahun depan, kan tinggal beberapa bulan lagi, lagian, kalo beli yang ini, dah sempat beli buku 1 dan 2 nya yang terbitan Matahati, ntar koleksinya jadi campur aduk gitu, gak seru ah… kalo harus beli buku 1 & 2 nya yang terbitan Harper itu, weks… jadi bangkrut deh, hehehe

47032

4. Lion Boy : The Chase - lagi-lagi sama, pertimbangan udah tinggal nunggu terjemahannya (kecuali nasib terjemahannya kayak Artemis Fowl ntar, nunggu bertahun2 gitu deh, kalo gitu, mgkn akan dipertimbangkan beli ntar, pake deadline deh, 6 bulan gak ada kabar berita, hm,… ntar beli aja aslinya, hehehehe)

Bartimaeus_boxedset

5. The Bartimaeus Trilogy - boxed set : ini gak jadi beli, penyebabnya sama dengan Series of Unfortunate Events tuh! Gila, gimana bawanya kemaren, dah bawa 15 buku baru, harus ngangkut ini lagi… patah deh pinggang! wekekekekek!

Tapi untuk Artemis Fowl, akhirnya beli juga, hehehee, abis kan koleksinya dah cocok tuh, pas banget, terakhir yang Opal Deception ^.^ dah punya, walaupun sekarang terjemahannya dah ada, tapi kan baru sampe buku 2, lama banget!!!!!!

Lihat nih!

Friday, October 13th, 2006

Hari ini, pas iseng nih, ngecek ke yahoo!360 gak seberapa itu, trus lihat jumlah pengunjung nya deh!

(lihat juga tanggal posting ! Friday, October 13, 2006)

Blogyahoo360

– closer look! —

Blog360

Datang ide konyol untuk mendokumentasikannya!

Beneran yah, kurang kerja banget sih ginian kog diposting? (wekekekekeke, yang baca lebih kurang kerja lagi, huahahahahaha)

Buku baru Mitch Albom

Wednesday, October 11th, 2006

Mitch Albom, penulis Tuesdays with Morrie dan Five People You Meet In Heaven, baru-baru ini kembali menelurkan satu lagi novelnya, dengan judul "For One More Day"

Malbomforonemoreday

  • Hardcover: 197 pages
  • Publisher: Hyperion (September 26, 2006)
  • Language: English
  • ISBN: 1401303277
  • Product Dimensions: 7.6 x 5.3 x 0.8 inches

“This is a story about family and, as there is a ghost involved you
might call it a ghost story. But every family is a ghost story. The
dead sit at our tables long after they have gone.”
(For One More Day)

Book Description
This is the story of Charley, a child of
divorce who is always forced to choose between his mother and his
father. He grows into a man and starts a family of his own. But one
fateful weekend, he leaves his mother to secretly be with his fatherand
she dies while he is gone. This haunts him for years. It unravels his
own young family. It leads him to depression and drunkenness. One
night, he decides to take his life. But somewhere between this world
and the next, he encounters his mother again, in their hometown, and
gets to spend one last day with herthe day he missed and always wished
hed had. He asks the questions many of us yearn to ask, the questions
we never ask while our parents are alive. By the end of this magical
day, Charley discovers how little he really knew about his mother, the
secret of how her love saved their family, and how deeply he wants the
second chance to save his own.

From : www.amazon.com

Hm dari salah satu review yang aku baca sih, katanya dalam buku tipis ini, cerita nya indah sekali. Jadi penasaran juga, apa ya yah? Karena setelah baca Tuesday with Morrie (yang bisa bikin aku tersedu-sedu karena terharu setengah mati….) terus baca lagi Five People You Meet in Heaven (awalnya agak bingung, tapi setelah baca lagi, buset deh… bagusssss ternyataaaaa), kayaknya percaya juga deh kalo dibilang buku ini bagus (",)

Terus katanya, abis baca buku ini : kau pasti akan ingin segera mencari ibumu dan memeluknya…

Jadi pengen beli, hehehehehehe (tapi nunggu aja ah, terjemahannya, biar gak mahal hehehe)
Kalau dari websitenya Mitch Albom sendiri, katanya hak terjemahan buku ini udah dibeli tuh ama beberapa publisher dari berbagai negara (England,
                          Australia, New Zealand, Brazil, France, Germany, Japan, Korean and
                          many others… huahhh, apa Indonesia ikutan juga yah di dalam many others nya itu???).  Hm, mungkin tahun depan dah publish kali yah bahasa Indonesianya?

Di kantor pun….

Sunday, October 8th, 2006

Dscf0929

Ternyata….
gak di rumah, gak di kantor..
tetapppp aja berantakan!
Tadi tuh, iseng aja, soalnya aku tiba-tiba terlihat, kog kayaknya di tiap laci di meja ada buku yah? akhirnya dengan penuh tekat, aku coba bersihin laci, dan buku-buku yang gak ada hubungan dengan kerjaan (alias novel dan komik, hi i hi) dijadiin satu, ntar rencana nya sih mau dibawa pulang hehehe)!
Weks… hasilnya…
astaga…
kog banyak juga yah??????
hua ha ha ha ha ha!!

(sebenarnya… di kantor kerja ato ngapain yah??? kog bisa numpuk ampe segitu? hm… hm…. *garuk-garuk jenggot mode on* )

Bookmark

Sunday, October 1st, 2006

 Pembatas buku itu benda yang sangat penting kayaknya bagi para kutu buku. Biasanya pencinta buku pasti benci banget deh kalau bukunya itu ada bekas lipatan. Rasanya seperti ada yang melukai diri kita, kalau menemukan salah satu halaman buku terlipat, hiks.. hiks…

Kadang, kalau gak ketemu pembatas buku itu, yah, benda apa pun yang terlihat, bisa dijadikan pembatas halaman yang sedang dibaca, selama benda itu tidak merusak buku itu. Dari pembicaraan di milis, selain menggunakan pembatas buku yang sebenarnya (alias dibeli atau diberi gratis dari penerbit — my favorite, hehehehe ) ternyata terdapat berbagai variasi pembatas buku yang luar biasa, mulai dari benda-benda yang masih terbuat dari kertas seperti : potongan tiket bioskop, potongan label pakaian, potongan bon pembelian, kertas-kertas junk mail, potongan kalender, potongan kartu, foto, lembaran post-it, maupun lembaran-lembaran lainnya (termasuk uang kertas ^.^). Tapi ternyata ada juga yang menggunakan benda-benda yang tak diduga : handphone, kepingan CD, buku lainnya, bantal, kursi, meja (nah lo…), atau benda apa pun yang terlihat dan gampang diraih (kecuali yang membuat kertas menjadi basah seperti termos, gelas –> ini juga kalau gak ada airnya dipakai tuh, hihihihi).

Nah, ternyata pembatas buku ini ada ceritanya lo….

selamat menikmati!

Pembatas Buku


Ada beberapa cara menandai halaman buku yang sedang kita baca. Di masa
lalu ada kebiasaan yang lazim dilakukan, yakni melipat sudut atas
halaman itu - dari sinilah diperoleh ilham untuk nama rubrik "Sudut
Lipatan". Arah lipatan menunjukkan halaman mana yang terakhir kita
baca, yang ganjil atau yang genap.

Bookmarks
Namun melipat halaman buku bukanlah cara yang patut ditiru, sebab akan
merusak buku. Bayangkan bila kita membaca dengan begitu lambat, pasti
akan banyak sudut halaman yang kita lipat. Jika satu hari cuma membaca
satu halaman, sudut yang sama akan dilipat dua kali, mula-mula ke
halaman ganjil, lalu ke halaman genap. Lama-lama, halaman itu patah
sudutnya.

Sungguh, sudah lama ada cara lain untuk menandai halam yang lebih
beradap. Orang yang kerap dsiebut berjasa ialah Christopher Barker,
tukang cetak istana pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I. Tentu
saja, ia tidak melipat sudut halaman. Istilah pembatas buku (bookmark)
merujuk pada hadiah yang diberikan Ratu Elizabeth I berupa pembatas
buku berupa pita dari bahan sutra.

Pembatas buku dibuat lantan buku pada masa itu merupakan barang langka,
maklum belum dicetak semasal sekarang. Harganya mahal, karena itu buku
mesti disayang-sayang. Tak boleh dilipat sudut halamannya. Barkerlah
yang merintis, kemudian orang terbiasa menggunakan pita yang direkatkan
pada bagian atas tengah buku, menjulur kebawah hingga melampaui batas
halaman. Pembatas seperti ini masih dipakai untuk halaman-halaman
skripsi, tesis, atau disertasi yang dijilid.

Pita stura inilah yang kemudian dipakai pada abad 18 dan 19, diikatkan
pada bagian atas buku dan terjulur hingga ke bawah halaman. Pada
1860-an pembatas buku dibuat masal dengan mesin J.& J. Cash
memproduksi pembatas buku sutra untuk menandai kematian Pangeran
consort, 1861, di Inggris. Namun orang pertama yang dianggap jago dalam
membuat pembatas buku ialah Thomas Stevens dari Coventry, Inggris, yang
disebut-sebut memiliki 900 desain. Karya Thomas Stevens biasa disebut
Stevensgraphs. Biasanya ia meneyrtakan kata-kata mutiara di pembatas
buku itu.

Baru pada 1880-an bahan kertas dan material lain lebih sering
digunakan. Dan kini kita mengenal pembatas buku dengan beragam material
dan desain. Ada yang terbuat dari kertas yang dicetak berwarna, ada
yang dibikin dari bahan seluid, perak, emas, kayu, brass, tembaga,
alumunium, timah, plastik, pita, sutra, kulit, serat optik, bahkan
gading.

Kata bookmark pun kini punya makna baru. Bookmark dipakai untuk menandai halaman atau lokasi situs di Internet.

db/berbagai sumber

sumber : Suplemen Ruang Baca-Koran Tempo ed. 30 - Sept 2006

<!–
D(["mb","
\n
\nBaru pada 1880-an bahan kertas dan material lain lebih sering digunakan. Dan kini kita mengenal pembatas buku dengan beragam material dan desain. Ada yang terbuat dari kertas yang dicetak berwarna, ada yang dibikin dari bahan seluid, perak, emas, kayu, brass, tembaga, alumunium, timah, plastik, pita, sutra, kulit, serat optik, bahkan gading.
\n
\nKata bookmark pun kini punya makna baru. Bookmark dipakai untuk menandai halaman atau lokasi situs di Internet.
\n
\ndb/berbagai sumber
\n
\nsumber : Suplemen Ruang Baca-Koran Tempo ed. 30 - Sept 2006
\n
\nsalam,
\nh_tanzil
\nhttp://bukuygkubaca.blogspot.com/
\n
\n[Non-text portions of this message have been removed]
\n
\n

\n

\n\n \n __._,_.___\n \n

\n \n \n Messages in this topic (1)\n \n \n \n Reply (via web post)\n | \n \n Start a new topic “,1]
);

//–>

(gara-gara postingan bang Tanzil nih… pembatas buku… hehehe)